Pengumuman

Tag Archives: manis

Si Hitam Manis Manangis

 

Oleh : Silpanus

Si Hitam Manis Menangis

 

 

 

 

 

 

 

 

Pagi itu menunjukkan jam setengah enam pagi, aku buru buru melangkahkan kaki menuju sekolahku. Hari itu tepat tanggal 30 Maret 2018. Sekolah kami akan melaksanakan perpisahan siswa kelas XII. Pagi itu aku masih sendiri, hanya ada seorang siswa, yang nampak hilir mudik membuka ruang kelas. Aku mendekatinya dan bertanya kepadanya.

“Aska, adakah kunci ruang music?”. Kataku kepadanya.

“Sebentar pak, saya ambilkan dulu?”. Jawabnya sembari melangkahkan kaki ke tempat tinggal Lasri yang dekat ruangan music itu. Tidak berapa lama, ia pun datang sambil membawa beberapa anak kunci ruangan yang ku maksud. Ia kemudian membuka ruangan itu. sebelum menuju ruang music. Harus melewati ruang perpustakaan dahulu. Setelah ia membuka ruang perpustakaan. Aku dan siswa itu menuju ruang music. Ternyata kunci yang dibawanya salah.

“Aduh, salah bawa kunci pak, tunggu sebentar pak? saya ambilkan lagi?”. Katanya sambil berjalan keluar dari ruang perpustakaan itu. Sejenak aku menunggunya di ruang perpustakaan itu. Kurang lebih lima menit, ia datang dengan membawa puluhan anak kunci, mungkin ia bingung kunci yang tepat untuk membuka ruang music itu. Aku menunggunya dengan sabar, hingga akhirnya ruang music itu terbuka.

“Sudah pak, saya permisi dulu, mau membuka ruang kelas yang lain?”. Katanya sambil berlalu di hadapanku. Aku melangkahkan kaki masuk kedalam ruang music itu. Akupun mengangkat keyboard dan adaptornya, kemudian ku bawa menuju panggung, yang sudah dipersiapkan oleh panitia perpisahan saat itu. Cuaca di langit nampak cerah. Aku berharap hari itu tidak turun hujan, sebab satu hari sebelum acara perpisahan itu, hujan turun dengan lebatnya. Hingga meruntuhkan tenda yang di buat oleh siswa kelas XII saat itu.

Akupun meletakkan keyboard dan adaptornya di lantai panggung itu. Pandanganku mengarah ke beberapa sudut teras saat itu, mencari terminal listrik yang sebelumnya dipergunakan oleh siswa siswiku untuk menghidupkan music malam harinya, karena mereka sambil berjaga, menunggu peralatan sound system sepanjang malam. Pandanganku pun tertuju di sudut perpustakaan, disitu terminal listrik nampak tergeletak terurai dengan kabelnya. Terminal itu kemudian ku bentangkan hingga sampai ke atas panggung. Setelah menghidupkan keyboard. Nampak Lasri, seorang siswa kelas XII IPS dan juga sebagai panitia perpisahan menghampiriku dengan membawa beberapa lembar kertas.

“Ini pak, naskah untuk MC yang dibuatkan oleh pa Hidayat?”. Katanya. Akupun mengambil naskah itu dari tangannya.

“Pak Hidayatnya mana Las?”.

“Pak Hidayatnya lagi mandi pak?”. .

“Eh, itu ruang computer terbuka?”. 

“Iya pak, itu si Aska mau mengambil gitar dan soundsystem pak?”. jawab Lasri.

Akupun menggangguk. Sesaat kemudian Lasri pun berlalu dari panggung itu. Aku mencoba memainkan keyboard yang ku bawa tadi. suaranya hanya terdengar di dekatku saja, karena tidak menggunakan sound system. Nampak beberapa siswa lainnya satu persatu tiba di sekolah, ada yang berjalan kaki, ada juga yang menggunakan sepeda motor.

Tidak beberapa lama Askapun datang, sambil menenteng soundsystem dan gitar akustik, setelah meletakkannya di panggung, ia pun berlalu dari atas panggung itu. Aku kemudian mengaktifkan sound system itu, dan memainkan sebuah lagu dengan gitar akustik. Lagu yang rencananya akan di bawakan oleh MC dan Rahmat Susanto saat penyerahan tanda kasih kepada tiga orang wali kelas XII, termasuk untuk Rahmat Susanto juga. setelah ku coba gitar akustik itu, ku pastikan tidak terdengar sumbang tiap senar yang ku petik. Setelah itu aku pun memainkan lagu lain di keyboard. Rencananya lagu itu akan mengiringi prosesi pelepasan siswa nanti.

Tiba tiba ada sebuah mobil avanza hitam memasuki halaman sekolah, orang yang ada di dalam mobil itu bertanya sesuatu kepada Lasri. Nampak Lasri menunjuk ke arahku yang sedang asyik memainkan alat music di atas panggung itu. mobil itupun kemudian meluncur mendekatiku. Terdengar bunyi klakson mobil itu, memberi tanda kalau orang yang ada di dalam mobil itu ada keperluan dengan ku.

“Pak Silpanus?”. Kata orang yang di dalam mobil itu, akupun mendekati orang itu.

“Ada kerjaan ya hari ini?”. kata orang itu yang sudah sangat ku kenal. Ia adalah Yuda, tokoh masyarakat Desa Sembuluh dua, seorang alim ulama juga. Ia pun menyalami ku, akupun menyambutnya.

“Begini pak Sil, kalau bisa? Kamu urus secepatnya masalah adminitrasi plasma itu, supaya cepat di proses kembali?”.

“Sudah pak?, kemarin dengan pak Nasrun?”.

“Oh, berarti sudah dapat ya?”

“Iya pak, sudah dua bulan ini  saya terima hasilnya?”

“Syukurlah kalau begitu?”

“Terus yang pertama kemarin itu, ada dapat nggak?”

“Ah, biarkan saja itu pak?, nggak masalah? Saya nggak memikirkannya juga?”

“Berarti nggak dapat ya, nanti coba saya telusuri hal itu?, masalahnya untuk pendatang, yang sudah 10 tahun lebih berdiam di sini, itu ada pertimbangan untuk mendapatkan hasil bagi plasma, nanti setelah tidak tinggal disini lagi, urusan adminitrasinya di kembalikan ke pengurus?, sesuai dengan kesepakatan?”. Kata tokoh masyarakat itu. “Baik, pak Sil, itu saja yang saya tanyakan?”. Katanya lagi. Akupun mengangguk. Mobil avanza hitam itu kemudian berlalu meninggalkan halaman sekolah itu.

Saat itu operator soundsystem yang disewa oleh panitia perpisahan masih belum datang. Terpaksa akupun hanya menggunakan soundsystem yang ada saja, untuk memastikan keyboard dan gitar akustik dalam kondisi siap pakai. Nampak dari jarak seratus meter. Aku melihat Meirezarianur datang ke sekolah, ia seorang guru Fisika dan juga sebagai Pembina OSIS. Akupun mendekatinya. Sesaat ia pun bertanya kepadaku ketika aku sudah menghampirinya.

“Nggak pakai dasi pak Sil?”. Katanya kepada ku.

“Nggak punya we?”. kataku, aku biasa memanggilnya dengan panggilan Owe, karena kata kata itu sudah terbisa dan sering digunakan kawan kawan di sekolah, bila sedang berbicara dengan Meirezarianur.

“Saya ada pak Sil, rasanya ada didalam laci meja?”. 

“Kalau ada, boleh saya pinjam?”.

“Tunggu sebentar pak?, saya coba lihat dulu?”. Sahutnya sambil berjalan kearah ruang guru. Tidak beberapa lama, ia pun datang dan menyerahkan sebuah dasi kepadaku, akupun menggunakan dasi itu, sambil berjalan kedalam ruang guru, akupun bercermin untuk memperhatikan dasi yang kupakai.

“Sepertinya, aku kenal dengan dasi itu pak Sil?”. Kata ibu Maya Sari yang saat itu melintas di belakangku.

“Iya bu May?”. Ini barusan di pinjamkan Owe untukku?”.

“Itu dasi saya pak Sil?, tapi pakai saja pak? saya juga nggak memakainya?”

“Oh, jadi ini punya bu Maya kah?”. Kataku sedikit heran. Nampak bu Maya menganggukkan kepalanya. Dengan pedenya aku pun menggunakan dasi itu, walaupun ukurannya terasa tidak pas buat ku. Tapi lumayan daripada tidak pakai dasi?. Pikirku.

Saat itu sudah menunjukan pukul tujuh pagi, seharusnya sesuai dengan undangan yang di buat oleh panitia sudah saatnya acara dimulai. Namun para undangan masih belum ada yang datang, beberapa guru juga sudah nampak silih berganti datang ke sekolah. Beberapa pengisi acara juga nampak sudah bersiap siap di ruang seni. Mereka menghias diri untuk performa yang akan mereka tampilkan pada acara itu. Beberapa ibu ibu guru sudah datang, mereka menggunakan kebaya modern. Terlihat sekali pesona ibu ibu guru itu, nampak anggun dan juga manis dengan kostum kebaya modern yang mereka gunakan. Sementara kami, kaum bapak bapak guru. Menggunakan baju T Shirt lengan panjang berwarna abu abu. Kostum yang sering kami pakai pada jam kerja setiap hari selasa.

Aku hilir mudik ke atas panggung, sesekali menemui operator soundsystem yang di sewa oleh panitia. Operator itu nampak sibuk menyiapkan peralatannya. Sebuah organ electon dan seperangkat mixer yang cukup besar sedang dipersiapkannya. Mesin genset pun juga dipersiapkan tim mereka untuk menyuplay peralatan listrik sound system yang mereka gunakan. Karena listrik yang di gunakan oleh sekolah tidak cukup mampu untuk menyuplai listrik ke perangkat sound system mereka.

“Mas, nanti kabel keyboard dan gitar ini tolong di satukan ke mixer kalian saja ya?”. Kataku seraya menyerahkan dua kabel kepada sang operator itu.

“Iya pak, nanti saya atur?”. Katanya sambil terus bekerja.

“Leviii?”. Kataku setengah berteriak memanggil seorang siswi yang saat itu sedang melintas di depan panggung menuju kelasnya.  

“Iya pak? ada apa?”. Sahutnya.

“Ini, naskah untuk MC, nanti kamu tinggal ikutin saja apa yang sudah tertera disitu, semuanya sudah di buat sedemikian rupa oleh pak Hidayat, kamu tinggal baca saja?”. Kataku sambil menyerahkan tiga lembar naskah MC kepadanya.

“Oh, baik pak?, saya mau keruangan dulu?”. Katanya sambil berlalu menuruni tangga panggung itu.

Tidak beberapa lama datang pak Hidayat menghampiriku di atas panggung.

“Bagaimana pak Sil, apa Levinya sudah datang?”. Katanya.

“Sudah pak Dayat, barusan ia menuju kelasnya?”. Kataku lagi.

“Okelah kalau begitu, saya menemui Levi dulu pak?”. Kata pak Hidayat kemudian berjalan menuju kea rah kelas XI IPS itu.

Undangan sudah nampak berdatangan, dan langsung diantar oleh anak anak yang bertugas sebagai penerima tamu. Para undangan itu langsung menempati tempat yang sudah disediakan oleh panitia. Disisi lain, nampak beberapa panitia membawa kardus berisi nasi kotak dan nasi bungkus yang akan dibagikan nanti pada saat acara berlangsung. Semua logistic itu mereka letakan di dalam satu ruangan. Kurang lebih jam delapan, acara pun di mulai. Satu jam terlambat dari jam pada undangan yang di sebarkan oleh panitia perpisahan itu.

“Bagaimana pak Sil, acaranya kita mulai saja?”. Kata pak Hidayat yang saat itu datang menghampiriku di depan pintu ruang guru.

“Silahkan pak Dayat, atur saja? dan MC tolong di kawal terus ya?”. Kata ku lagi.

Pak Hidayat nampak bergegas menemui Levi yang ditugaskan menjadi MC saat itu, di atas panggung ia pun mengawali acara dengan pengantar yang sudah di persiapkan oleh pak Hidayat. Awal acara di pimpin oleh doa yang langsung di ucapkan oleh pak Nanang Haitami, salah satu bapak guru SMA juga. Sebagai pembuka acara. MC mempersilahkan kepada tim tari SMA yang sudah bersiap sejak pagi hari. kepiawaian mereka menari sangatlah sedap di pandang mata, gerak tari yang mereka bawakan, sangat indah dan bernuansa daerah Kalimantan Tengah. Semua undangan yang hadir menikmati persembahan tari itu, sebagian dari mereka ada yang mendokumentasikan dengan ponselnya masing masing.

Akupun menikmati persembahan tari itu, dibawah tenda yang juga disediakan khusus untuk para dewan guru, aku dan Rahmat Susanto. duduk memperhatikan tari daerah itu.

“Santo, kamu jangan jauh jauh?, nanti pada saat acara punya kalian, kamu harus standbye di atas panggung?”. Kataku yang duduk di sebelah Rahmat Susanto.

“Baik pak Sil, saya cuma main gitar saja kan?”. Jawabnya singkat.

“Iya?”. Kataku lebih singkat lagi. Mendadak ibu Susanti datang mengarah ke tempat duduk kami berdua. Karena kami duduk di bangku khusus untuk ibu ibu guru. Terpaksa aku dan Rahmat Susanto harus berpindah tempat ke bagian belakang. Ibu Siti Musliah, nampak mengangkat sebuah kursi busa untuk kawan kawannya itu, dengan pakaian kebaya mengangkat kursi bukanlah pekerjaan yang mudah, apalagi dengan sepatu yang berhag, hingga bagian bagian tanah yang di injak meninggalkan bekas lobang oleh sepatu hag itu.

            Di tenda anak anak kelas XII, nampak beberapa dari mereka berpindah tempat duduk. Karena sinar matahari yang cukup panas, membuat mereka merasa gerah. Acara berganti dan mengalir sesuai dengan waktu dari masing masing pengisi acara. Lasri siswa kelas XII IPS dan saat itu menjadi ketua panitia perpisahan, mendapat giliran untuk menyampaikan kata sambutannya. Untuk tahun ini, sangat berbeda seperti tahun sebelumnya. Bila ada kegiatan perpisahan, maka yang memberikan sambutan atau laporan pasti ketua panitia Ujian. Perbedaan ini karena beberapa hal yang sangat sensitive dan berkaitan dengan dana. Sehingga saya dan ketua panitia Ujian melepaskan sepenuhnya untuk urusan perpisahan kepada para siswa saja, dan merekapun dengan swadaya sendiri, berhasil mempersiapkan acara dengan baik.

            Waktu sudah menunjukkan jam setengah Sembilan, saat itu giliran ibu Kepala Sekolah yang memberikan sambutan. Dengan panjang lebar. Ibu Kepala Sekolah menyampaikan kata katanya, mulai dari kegiatan pra ujian sampai selesai ujian. Aku dan pa Hidayat berada di belakang panggung, sesekali berdiskusi tentang susunan acara yang sedang berlangsung.

            “Pak Sil, sekiranya ada yang kurang pas, langsung di instrupsi saja pak?, biar acara kita bisa berjalan dengan maksimal, ini saja saya lupa memasukkan satu pengisi acara, seharusnya ada kesan dan pesan dari adik kelas yang ditinggalkan ya?, nah saya lupa memasukkan kedalam naskah yang di bawakan MC?”. Kata pak Hidayat.

            “Nanti, diatur saja pak, pada saat selesai pesan dan kesan dari kelas XII, langsung dipersilahkan adik kelas yang menyampaikan pesan dan kesannya?, tapi orangnya sudah siapkan nggak pak, berikut dengan naskahnya itu?”. Kataku lagi.

            “Sudah siap pak, ini orangnya, Jihan kelas XI.IPA?”. Kata pak Hidayat sambil menunjuk Jihan yang ada di sebelahnya.

            “Ya pak, jadi otomatis saja nanti, setelah dari kakak kelas, langsung adik kelas yang masuk?”. Kataku lagi.

            “Sip sip pak Sil?”. Kata pak Hidayat, kemudian berdiskusi dengan pembawa acara. Akupun beranjak dari belakang panggung itu. Menuju ke arah tenda siswa kelas XII.

            “Siapa yang sudah ditunjuk untuk pelepasan atribut, tolong segera bersiap, sebentar lagi ibu kepala sekolah akan mengakhiri sambutannya?”. Kataku pada beberapa siswa yang duduk di bawah tenda kelas XII itu. nampak seorang siswa dan siswi memisahkan diri dari temannya dan menuju ke arah ku yang masih menunggu mereka.

            “Kalian berdua, bersiap saja di sini, nanti? Pada saat ibu kepala sekolah sudah selesai, kalian langsung naik panggung ya?”.

            “Siap pak?”. Kata mereka kompak.

            Sesaat berikutnya nampak Lasri datang dengan membawa baki yang ku minta, baki itu sebagai tempat menaruh atribut siswa yang akan dilepas oleh kepala sekolah, saat selesai sambutannya.

            “Ini pak bakinya?”. Kata Lasri.

            “Iya, makasih Las?”.

            “Orang yang membawa bakinya sudah ada ya pak?”

            “Itu kita manfaatkan yang ada di panggung saja, temannya Levi, kebetulan giliran dia mengisi acara masih belum juga?”.

            “Oh, baguslah kalau begitu pak? jadi saya nggak perlu cari orang lagi?”. Kata Lasri

            Sejurus kemudian, aku berjalan ke arah pak Hidayat, sambil menyerahkan baki itu.

            “Pak Dayat, ini baki, untuk menaruh atribut siswa yang akan dilepas oleh kepala sekolah nanti, biar teman Levi ini saja yang memegang bakinya nanti?”.

            “Oke pak Sil, sip.? Sip.?”. ujarnya.

            Aku kemudian menghampiri, operator soundsystem yang selalu standbye dengan peralatannya.

            “Mas, nanti, tolong putarkan music terima kasih guru ya, sayup sayup saja, pada saat pelepasan atribut siswa?”. kataku.

            “Baiknya, bapak saja yang main keybordnya?”. Katanya

            “Ah, cukup putarkan rekamannya saja mas, lagian tidak panjang juga kok?”. Jawabku lagi. Mereka pun menyetujui saranku itu. Kurang lebih setengah jam. Ibu kepala sekolahpun mengakhiri sambutannya, setelah memberikan piagam penghargaan dari Kepala Dinas Pendidikan Propinsi Kalteng kepada bapak Nanang Haitami Ketua panitia USBN dan UNBK. Sayup sayup. Music terima kasih guru di perdengarkan oleh operator. Kedua siswa siswi kelas XII naik keatas panggung, dan  langsung disambut oleh ibu Kepala Sekolah. Pak Hidayat mendamping prosesi pelepasan atribut itu, ia pun mendokumentasikan prosesi itu dengan kamera ponsel.

            Tidak lama prosesi pelepasan atribut itu, pak Hidayat pun kembali ke belakang panggung, dan ibu Kepala Sekolah kembali ke tenda dewan guru.

            “Benar juga pak Sil, tadi saya, sempat ada rasa bagaimana gitu? saat mendengar music terima kasih guru, mengiringi prosesi pelepasan atribut siswa siswi tadi”. Kata pak Hidayat sambil duduk di kursi plastiknya itu.

“Nanti pak Dayat, belum saatnya kamu merasakan nuansa keharuan, pada saat prosesi pelepasan semua siswa, baru kamu bisa lihat?”. Kataku dengan percaya diri. Ketika itu MC mempersilahkan sambutan dari salah satu orang tua siswa kelas XII. Nampak sesaat orang tua yang di maksudkan tidak naik panggung. Akupun sesaat heran, sementara pak Hidayat nampak berdiri dari tempat duduknya memperhatikan orang yang dimaksud. Ternyata orang itu kebetulan sedang menikmati nasi kotak yang sudah dihidangkan, baru saja mengunyah nasinya.

Aku dan pak Hidayat sesaat tertawa kecil, karena bukan kesengajaan. Jadi kurang lebih lima menit ada jeda untuk mempersilahkan orang tua siswa itu menyelesaikan makannya.

            Nampak pak Haitami, mendekati MC, sepertinya hendak intrupsi. Namun bersamaan dengan itu, orang yang dimaksud sudah berdiri dari tempat duduk makannya dan berjalan naik ke atas panggung, andai saja masih lama. Maka untuk sementara akan diisi oleh acara berikutnya, agar tidak vacuum terlalu lama. Diatas panggung orang tua siswa itu member sambutan, tidak terlalu lama sambutannya. Dan mungkin sama lamanya saat ia di panggil dan waktu ia memberikan kata sambutan.

            MC pun kemudian memberikan kesempatan kepada perwakilan kelas XII untuk tampil keatas panggung untuk mempersembahkan lagu. Seperti biasanya, setiap mengawali dan mengakhiri komentarnya, MC selalu memberikan pantun, hingga terkesan jenaka. Tapi realistis. Sebab pantun yang di konsep oleh pak Hidayat benar sesuai dengan acara formal semacam itu. Akupun bersiap di belakang keyboard untuk mengiringi lagu yang dibawakan oleh perwakilan siswa kelas XII itu. Disebelahku seorang siswa juga sudah siap dengan gitar akustiknya. Anak anak itu membawakan lagu yang ku ciptakan sendiri. Sambil memainkan keyboard, aku memperhatikan anak anak yang sedang bernyanyi itu. sebagian dari mereka menyanyi dengan wajah tertunduk, mungkin malu kalau terlihat sedih saat menyanyi.

            Hanya lima menit waktu untuk membawakan lagu itu, merekapun kembali ke tempat duduknya.

            “Baiklah bapak ibu pada undangan yang kami hormati, selanjutnya kita bersama sama akan mendengarkan sebuah puisi homor, yang akan di bawakan oleh Aska dan kawan kawan, kepada Aska dan kawan kawan di persilahkan?”. Kata MC. Nampak Aska dan dua orang teman perempuannya naik ke atas panggung, mereka dengan jenaka membawakan puisi homor yang di buat oleh ibu Nurul Eva Widyastatik, para undangan yang mendengarkannyapun nampak tertawa. Akupun juga ikut gembira mendengarnya, andai saja di kolaborasi dengan music yang jenaka, mungkin pertunjukan mereka akan semakin lucu, kataku dalam hati?.

            Keceriaan para undangan yang hadir saat itu, sesaat berubah menjadi nuansa keharuan. Saat tiba pemberian tanda kasih kepada wali kelas XII. Aku kembali ke posisiku sebagai pemain keyboard. Bersama Rahmat Susanto yang berada di sebelahku ia pun memainkan gitar akustik. Konsep ini sengaja ku buat. Untuk memberikan kesan penghargaan buat wali kelas XII. Ibu Nurul Eva Widyastatik wali kelas XII.IPS.1, ibu Maya Sari wali kelas XII.IPA dan Rahmat Susanto saat itu wali kelas kelas XII IPS.2. Lagu yang kami mainkan dari group band Republik dengan syair lagu “Aku Takut” yang sudah kami adaptasi.

            Suasana nampak haru, saat Herfia dan temannya menjemput ibu Nurul Eva dan ibu Maya Sari dari tempat duduknya, mereka berdua di bawa ke tengah tengah para undangan, tepat di antara tenda para orang tua, dewan guru dan para siswa kelas XII, Lasri dan temannya dari kelas XII IPS.1 menghampiri wali kelasnya ibu Nurul Eva, mereka memberikan serumpun bunga tangan yang di kemas dengan indah kepada wali kelasnya itu, kemudian mengalungkan syal ke leher gurunya dengan rasa haru. Nampak beberapa siswa meneteskan air mata menyaksikan itu. Begitu juga dengan ibu Maya Sara, ia menerima serumpun bunga tangan yang indah, dan balutan syal yang lembut di lehernya, anak anak itu memberikan tanda kasih itu kepada wali kelasnya dengan rasa bangga dan rasa haru.

            Jika ibu Nurul Eva mendapatkan tanda kasih balutan syal dan serumpun bunga dari Lasri dan Erika, siswanya yang selama ini bermotivasi dalam kepramukaan. Ibu Maya sendiri, mendapatkan tanda kasih serumpun bunga dan balutan syal dari Afif yang dikenal selalu membuat gusar wali kelasnya itu. Yang nampak berbeda adalah Rahmat Susanto, di atas panggung ia  terhenti sejenak dari permainan gitarnya, hingga aku yang melanjutkan music yang terus di mainkan, sebab ini adalah konsepnya. Disaat siswanya memberikan setangkai bunga dan syal, ia pasti akan berhenti dari permainan musiknya, maka otomatis tidak ada bunyi music yang mengiringi prosesi itu.

            Untuk itulah aku selalu mengambil alih dengan music keyboard yang kumainkan.  Rahmat Susanto mendapat setangkai bunga mawar dan balutan syal dari dua orang siswinya, Dea dan Mirna. Sengaja kupilih mereka berdua untuk memberikan itu kepada wali kelasnya itu, sebab mereka berdua pernah bertengkar. Dan Rahmat Susantolah yang menesehati mereka berdua untuk tidak berkelahi lagi.

            Ibu Nurul Eva dan ibu Maya Sari di bawa oleh anak didiknya naik ke atas panggung, dimana Rahmat Susanto sudah berada di atas panggung bersama kedua siswinya.  Anak anak itu memeluk mesra guru gurunya itu, kecuali Rahmat Susanto, tidak mendapatkan pelukan mesra dari para siswi. Maklumlah namanya juga guru bujangan, apa kata dunia jika para siswi rebutan memeluknya heee?. Kataku dalam hati.

            Prosesi itu berlangsung tanpa jeda, MC kemudian memanggil nama nama dewan guru, untuk naik ke atas panggung untuk menerima ungkapan perpisahan dari para siswa kelas XII. Akupun segera merubah music sebagai pengiring prosesi yang ditunggu tunggu itu. lagu “Di saat ini” yang selalu ku mainkan satu tahun sekali, dibawakan dengan baik oleh Levi, hingga membuat suasana prosesi itu terasa sendu, sedih dan haru. Satu persatu para siswi itu naik keatas panggung, menjabat erat tangan gurunya, memeluknya, bahkan ada yang menciumi pipi ibu gurunya dengan mesra dan berurai air mata. Mereka begitu terharu, hingga para ibu ibu guru itupun nampak berkaca kaca, dan ada yang meneteskan air mata, walaupun terbesit senyum di wajah para ibu ibu guru itu.

            Sambil memainkan keybord mengiringi Levi yang menyanyikan lagu yang kuciptakan itu, aku sempat mengabdikan prosesi itu dengan ponselku. Giliran pertama yang menyalami para guru guru adalah barisan putri. Aku melihat dengan jelas, bahkan sangat jelas? Ekspresi sedih, sendu dan rasa haru yang terjadi di depan mataku saat itu. para siswi itu begitu sedih, air mata mereka terus membasahi wajah mereka, tidak pernah ku lihat dengan begitu dekat, siswi itu mencium mesra pipi ibu gurunya itu, memeluk dengan penuh iklas ibu ibu gurunya dan menangis tanpa rasa malu sedikitpun. Dalam benakku akupun sempat berpikir, mungkinkah mereka pernah melakukan kesalahan dengan ibu ibu guru yang hampir tiga tahun ini sudah mendidik mereka, hingga hari ini mereka begitu sedih berpisah dengan ibu ibu gurunya itu. alunan music dan lagu terus mengiringi prosesi pelepasan yang masih cukup panjang itu, hingga akupun harus berulang ulang memainkan music itu.

            Beberapa tahun yang lalu, lagu ini ku ciptakan, karena saat itu. Aku melihat. Ada seorang ibu guru di kelas sedang marah marah karena kelakuan siswa yang membuat ibu itu gusar. Saat itu anak anak yang di marahinya adalah kelas XII. Aku pun berpikir, bagaimana cara agar mereka, anak anak itu bisa menyadari kesalahan yang mereka lakukan kepada ibu guru itu. maka terciptalah sebuah lagu. Dan lagu itu hingga sekarang setiap setahun sekali hadir di acara pelepasan dan perpisahan siswa. Setidaknya setiap anak anak yang mendengar kan setiap kata dalam syair lagu itu menyadari, bahwa seorang guru yang baik, tentu memberikan hal yang baik pula pada para siswanya. Tidak mungkin seorang guru dapat marah, jika tidak ada kesalahan yang sengaja dilakukan oleh siswa. sebab guru bukan sebagai pengajar, tapi juga mendidik.

Di saat ini

 Disini, dikala mentari pagi, menerpa lembut wajah ibu..

Telah kau beri semua baktimu, sbagai tanda pengorbananmu..

Akan ku ingat slalu, semua nasehatmu guru..

 

Andaiku tak dapat meraih citaku, andaiku tak mampu mengggapai mimpiku..

Kuharap engkau slalu ada disisiku, hingga ku sanggup meraih citaku..

Jangan pernah kau meninggalkan hidupku, jangan tak kau hiraukan rasa sedihku..

Ku harap engkau slalu ada disisiku, wahai guru ku uu tercinta..

 

Doaku hanya kepada Tuhanku, lindungi dan sertailah guruku..

Agar hidupnya.. bahagia.. selalu

            Bait demi bait lagu itu mengiringi prosesi yang masih cukup panjang itu, sesaat mataku tertuju pada Meirezarianur, yang biasa ku panggil Owe, dia nampak menangis sejadi jadinya, baru kali ini tepat didepanku, aku melihat seorang guru laki laki menangis tanpa rasa malu, saat ia menerima pelukan kasih dari siswa laki laki yang selama ini di binanya itu, bagimana tidak, anak itu selalu menjadi orang yang selalu menuruti apa yang diperintahkannya dalam segala bentuk kegiatan OSIS, sebagai Pembina OSIS Meirezarianur merasa, siswa itu sangat berarti, begitu juga sang siswa itu. Diapun menangis sambil memeluk gurunya itu.

            Yah,.. hari itu seorang guru hitam manis, Meirezarianur akhirnya menangis berurai air mata, ia sempat membalikkan badannya ke belakang panggung, hanya untuk membuang hingusnya yang nampak meleleh bersama air mata harunya itu. Posisi ku memainkan keyboard di belakang para dewan guru, sedikit menguntungkanku. Andai aku pun berdiri menerima ungkapan kasih dari para siswa siswi ku itu. Mungkin akupun akan meneteskan air mata. Hal itu sudah ku pikirkan, hingga aku selalu di belakang saja. Memainkan music, mengiringi Levi menyanyikan lagu perpisahan itu hingga selesai.

            Usai sudah, pelayaran kami membawa siswa siswi, menuju dermaga yang selama ini dinantikan, kini mereka. Akan menjalani kehidupan baru. putih abu abu menjadi kenangan sepanjang hidup mereka. Masa remaja mereka jalani di SMA 1 Danau Sembuluh berakhir, kamipun semua guru melepaskan mereka. Agar mereka dapat berkarya lebih baik lagi di kehidupan studi dan karier mereka selanjutnya.

            Selamat untuk para siswa siswiku, semoga kalian semua kelak. Menjadi orang orang yang berguna, menjadi orang orang baik yang dapat memberikan manfaat baik bagi orang lain. Teruslah berjuang, kembangkan semua didikan yang sudah kalian peroleh selama menjadi remaja di putih abu abu bersama kami. Dan kami para gurumu, akan kembali berlayar bersama “WIDYA DHARMA”, untuk mengantarkan adik adik kelas kalian menuju dermaga perhentian selanjutnya.

 

Pelabuhan Yang Dinanti_1

Pelabuhan Yang Dinanti_2

01 02 03 04 07 08 09 10 11

“Si Manis Dari Demak”

cover simanis

 

 

 

 

 

 

 

 

“Si Manis Dari Demak“ Cerita ini di balur dengan bentuk narasi sugestif, suatu narasi yang berusaha untuk memberikan maksud tertentu, menyampaikan suatu amanat terselubung kepada para pembaca atau pendengar sehingga tampak seolah olah melihat. Menurut Atar Semi (2003:31) sebuah narasi yang terdiri dari; bentuk cerita tentang kejadian atau pengalaman penulis, peristiwa yang disajikan dalam bentuk peristiwa yang sebenarnya terjadi, bisa imajinasi belaka atau kombinasi keduanya, konfiks berbasis, memiliki nilai estitika, dan menekankan susunan kronologis.

“Si Manis (Manis = Manusia Istimewa) Dari Demak” adalah penokohan dari seorang ibu guru yang bernama Nurul Eva Widyastatik, SE. salah satu dari guru guru hebat yang ada di SMAN-1 Danau Sembuluh. Keistimewaan  ibu Nurul Eva Widyastatik, SE, adalah mampu membentuk karakter peserta didik melalui “Kepramukaan” yang dibinanya. Berikut bagian dari beberapa cerita “Si Manis Dari Demak”

 

Persami

 

                 “Bapak ibu, dimohon hadir ya, besok pukul 06.30 kita laksanakan upacara pembukaan persami?. Mohon maaf undangannya melalui pesan WA?”. Bunyi cuitan bu Eva di WA group SMANSADASE. Setelah membaca pengumuman itu, aku pun beranjak menuju tempat tidur, karena malam sudah pukul sembilan. Cuaca malam saat itu agak dingin,  sesekali terlihat kilatan petir, yang menembus celah celah lobang angin di kamar tempatku beristirahat.

                 Terdengar juga suara berisik anjing peliharaanku, yang terus berjaga sepanjang malam. Mengais ngais tempat tinggalnya, yang sengaja ku buat dari beberapa potong kayu. Malam semakin larut. Desa Sembuluh hening di terpa kesunyian malam. Sesekali terdengar bunyi sepeda motor yang di pacu kencang. Membelah kesunyian malam itu. Menjelang subuh, pukul empat, aku terbangun dari tempat tidurku. Suara suara azan dari beberapa masjid dan mushola terdengar membahana waktu itu, memanggil para jemaahnya untuk datang shalat subuh.

                 Subuh itu turun hujan lebat, cuaca dingin terasa menembus dinding beton rumah dinas kami, aku mengambil laptop dan mengisi subuh itu menulis cerita si Manis Dari Demak. Sudah beberapa halaman berhasil ku tulis, namun karena belum selesai, tulisan itu tidak bisa ku ikut sertakan pada SAGUSABU 2018, aku sedikit kecewa tapi apalah daya, semua ada waktunya. Mungkin lain kesempatan buku yang kutulis bisa ikut bergabung di SAGUSABU, bersama Singa Putih Abu Abu, buku lainnya yang juga belum selesai ku tulis.

                 Diluar hujan masih turun dengan deras, aku pun teringat pesan dari bu Eva (Si Manis Dari Demak) kalau pagi ini ada upacara persami (perkemahan sabtu minggu). “Semoga saja hujannya cepat berhenti”. Gumamku dalam hati. Jam sudah menunjukkan pukul lima pagi, hujan semakin deras saja. Seperti memuntahkan semua isi perut awan hitam yang menyelimuti Desa Sembuluh. Ingin rasanya ku kembali berbaring di atas tempat tidur, menyelimuti diri dengan selimut. Tapi isi kepalaku seakan penuh dengan hayalan kata kata, jika tidak ku keluarkan semua ke sebuah kertas putih. Mungkin akan hilang berlalu.

                 Aku terus menulis, agar isi kepalaku tidak cepat hilang begitu saja. hujan mulai agak reda, tapi kadang deras lagi, kadang reda lagi. Seperti orang yang menyiram tanaman dengan slang, kadang deras kadang pelan. Ternyata itu karena di tiup oleh angin. Aku berhenti dari tulisannku. Lalu bersiap mandi. Waktu sudah pukul enam. Hujan meninggalkan sisanya. Cahaya sang surya tidak nampak pagi itu. awan mendung menutupi sinarnya. Akupun kemudian menuju sekolah. Tidak butuh waktu lama menuju tempat sekolahku, hanya berjarak dua puluh meter, akupun sudah menginjak halaman samping sekolahku itu.

                 Air bekas hujan masih bersimbah di rerumputan halaman sekolahku itu. dari kejauhan. Aku melihat beberapa anak anak berpakaian pramuka sudah berada di depan kelas mereka masing masing. Menunggu instruksi dari kaka sangganya. Aku berjalan menuju ruang guru. Namun kemudian akupun balik badan menuju kantin yang berada di samping ruang computer. Pagi itu ingin rasanya aku menikmati sepiring nasi sop.  Cuaca yang masih dingin. Terasa enak menikmati nasi sop yang masih hangat. Tidak perlu terlalu lama menikmati nasi sop itu. Akupun beranjak dan menuju ke ruang guru.  Di depan ruang guru. Sudah berdiri bu Eva dengan asbut Pembina pramuka yang di milikinya. “Bagaimana bu, jadi ya upacaranya?”. Kata ku. “Iya, jadi pa Sil, nunggu beberapa kawan lagi yang belum datang?”. Sahut bu Eva. Halaman depan ruang guru itu nampak tergenang oleh air hujan. Tidak beberapa lama datang seorang guru gagah, dengan tegap berjalan menuju ke arah ruang guru. Dengan kostum pramuka yang sama dengan lengkapnya dengan bu Eva. “Siap komandan!”. Kataku sembari menyalami sang guru itu. “Hahahahaha”. Guru itu hanya menyambut dengan tertawa khasnya.

 “Iya ini pak Sil, saya di minta oleh bu Eva, jadi Pembina?, padahal saya perlu belajar banyak dulu dari bu Eva, maklumlah masih junior?”. Sambungnya lagi. “Baguslah pak Dayat?”. Sahutku lagi. Hari sudah benar benar bersih dari gerimis. Nampak bu Eva sesekali memanggil para kaka sangga untuk segera mempersiapkan segala sesuatunya. “Lasri, bagaimana persiapannya, apa sudah siap?”. kata bu Eva. “Sudah bu?”. sahut Lasri. “Kalau begitu, ayo di perintahkan petugas yang lain untuk bersiap siap?”. kata bu Eva lagi.

Lasri kemudian berjalan ke arah  kaka sangga yang sedang bersiap siap dengan asbutnya. Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh pagi, lewat dari waktu yang ditetapkan oleh bu Eva. Namun pagi itu semua siswa sudah berada di  halaman untuk bersiap siap mengikuti upacara pembukaan persami. Ia kemudian menaiki sebuah tower bambu yang di buatnya bersama teman temannya, sebagai tempat untuk mengabadikan kegiatan persami hari itu. dari atas tower bambu setinggi enam meter itu, ia mengabadikan kegiatannya. Upacara itu berlangsung kurang lebih lima puluh menit.

Waktu terus bergulir dari menit ke jam, para peserta persami semuanya adalah peserta didik kelas X SMAN-1 Danau Sembuluh. Kegiatan tiap tahun yang di laksanakan oleh bu Eva, sebagai pembina pramuka. Selama satu tahun pelajaran, para peserta didik pramuka kelas X, wajib mengikuti persami, sebagai bagian sakral dari kegiatan pramuka yang dilaksanakan satu kali selama satu tahun. Karena di tahun ajaran berikutnya, beberapa orang dari mereka. Yang bermotivasi tinggi dalam kepramukaan. Akan menjadi kaka sangga untuk peserta didik baru lagi.

Dari bawah pohon akasia, bu Eva mengawasi para peserta pramuka yang sedang mendirikan tendanya masing masing. Tenda yang mereka dirikan sederhana saja. dari sebuah terpal dengan warna yang berbeda beda dan ukuran yang beda juga. Nampak para kaka sangga, hilir mudik memberikan motivasi, kepada para peserta pramuka itu. Untuk tetap semangat mendirikan tendanya. “Bagaimana ini ka?, kami tidak bisa mengikatnya?”. Kata peserta persami yang terlihat terdiri dari beberapa wanita. “Ayo dik?, kalian bisa, jangan menyerah?”. Kata Haidir satu dari kaka sangga lainnya. Mereka terus berusaha mendirikan tendanya, yang kadang kadang ambruk karena ikatannya kurang kuat.

Di beberapa tempat lain, nampak tenda tenda sudah berdiri dengan kuat, mereka sangat menikmati acara persami. Walaupun penuh dengan keringat. Mereka tetap kompak. Walau sesekali ada beberapa dari mereka cemberut, karena di kerjain oleh teman dari kelompok lainnya. Karena tenda yang mereka buat selalu jatuh bangun. “Makanya, kalau kerja itu yang benar, masa ngikat itu aja nggak bisa?”. Kata kelompok lainnya nyindir. “Huh?, kalian enak, laki laki semua, kami semua perempuan?”. Kata kelompok lain yang merasa di buly. “Kita lihat saja nanti, apa kalian semua, para laki laki bisa masak, tanpa perempuan?”. Kata mereka lagi. “Eeeet, jangan di kira kami tidak bisa masak, tuh lihat nggak? Satu dari kami ada yang bisa masak? malah masakannya? dari baunya aja enaaaakkk?”. Kata kelompok laki laki itu. “Ah, bau apanya yang enak, ini bau nasi hangus?”. Sahut kelompok perempuan itu. “Hah!!, ini bau nasi hangus ya?, kok sedap begitu baunya?”. Kata salah seorang dari tenda para laki laki itu.

“Hahahahahahahaha!, makanya, jangan mengolok kami dong?, masak nasi saja nggak bisa? Hahahahahaha?”. Kata kelompok perempuan itu.

Sementara itu dalam kemah yang dihuni para pelajar laki laki itu. “Eh brur? Kamu itu bisa masak nasi nggak sih?, kok tadi dibilang mereka, nasi kita hangus?”. Kata Lugi. “Waduh brur?, saya tadi ketiduran?, soalnya saya capek sekali dirikan tenda? Kamu enak enak saja genjrang genjreng main gitar?”. Sahut Jainudi Husein. “Lho, saya juga cape brur?, kan saya menghibur kamu juga? supaya kamu semangat dirikan tenda kita?”. ujar Lugi.

“Menghibur sih? menghibur brur? Tapi teman di bantu juga dong?”. Kata Junaidi lagi.

“Tapi kalau saya bantu kamu, nanti susah saya menghibur kamu, Jun?”

“Ah, itu cuma akalan kamu aja Lugi?”.

“Bukan begitu Jun?, coba kamu bayangkan, kalau saya nyanyi sambil megang tali tenda,? kan nggak ada musiknya?, makanya saya megang gitar?”.

“Alah?, bisanya kamu saja Lugi?, bilang saja nggak mau bantu? Ntar nanti kamu saya laporkan sama bu Eva?”.

“Hah?. Jangan Jun?. saya takut sama bu Eva, ibunya galak sih?”

“Kalau kamu takut saya laporkan, sebaiknya kamu bantu saya ok?”. Kata Junaidi Husen dengan nada ketus. “Siap? komandan?, eh? Ngomong ngomong, nasi kita gimana nih?, udah hangus?”. Kata Lugi.

“Tenang saja, yang hangus cuma bagian dasarnya aja, di atasnya masih bisa kita makan juga Lugi?”

“Tapi? Tetap aja hangus itu Jun?”.

“Alahhh, jadi anak pramuka aja, kamu ini cengeng amat sih?, kamu nggak dengar kata bu Eva tadi sebelum upacara, itu si Risky, belum apa apa sudah duduk di bangku santai, nggak sanggup ikut upacara?”. Kata Junaidi mengingatkan temannya itu. “Benar juga kamu Jun?, kita sebagai anak pramuka jangan cengeng ya?. Wah? Salut saya sama kamu Jun?”. Kata Lugi sembari mengusap usap telapak tangannya di pundak Junaidi yang lagi duduk sambil mengambil nasi dari panci.

“Eh Lugi, kalau membersihkan tangan, jangan ke baju aku dong?, saya tahu, kamu itu membersihkan telapak tangan kamu ke baju aku?”

“Waduh, sorry teman? Saya khilaf. Saya pikir kamu nggak tahu Jun?”.

“Siapa sih yang nggak kenal kamu Lugi?, orang paling lihai dan cerdik?”. Kata Junaidi seraya beranjak dari tempat duduknya. Sementara itu di kemah para peserta perempuan nampak mereka sedang duduk kelelahan. “Waduh, cape sekali saya nih?”. Kata Tyas. “Saya juga lelah sekali? Rasanya mau pingsan nih?”. Ujar Risma. “Yah, beginilah nasib kita, kalau urusan mendirikan tenda, pasti lama selesainya? Mana harinya agak panas?”. Kata Handini.

“Eh, Din? Kita masak apa nih?”

“Kayaknya kita masak mie rebus aja deh Tyas?”.

“Soalnya, kalau kita masak nasi? Ntar matangnya lama Tyas?, mana perut sudah keroncongan nih?”.

“Oke Din?. Saya masak air dulu, kayu bakar kita ada nggak?”.

“Lho, kenapa pakai kayu bakar, ntar pancinya hitam?. Itu ada kompor gas mini yang di bawa Risma?”.

“Oh iya?, saya lupa Din?”. Kata Tyas sambil beranjak mengambil kompor gas mini yang mereka bawa.

Sementara itu, nampak kaka sangga, yang di pimpin Haidir, sedang patroli ke tiap kemah para peserta persami itu. Hampir semua tenda sudah terpasang di halaman sekolah. Beberapa peserta sudah sibuk dengan persiapan menu siangnya saat itu. sementara bu Eva, dari depan ruang guru nampak mengamati semua peserta dan kaka sangga. Ada optimis dalam raut wajahnya, bahwa kegiatan persami ini berjalan dengan lancar. Apalagi dukungan dewan guru untuk mengawal acara persami hingga esok hari, nampak antusias.

Awan di langit sesekali menaungi terik matahari, namun cuaca  sedikit agak gerah. Hingga beberapa peserta laki laki yang berada dalam tenda, nampak kepanasan dan keluar dari kemah, menuju pohon akasia, dan berteduh di bawahnya, sambil sesekali berdendang dengan gitar kesayangannya. “Lugi, mainkan sebuah lagu untuk kita dong?”. Kata Andi Yawan. “Mau minta lagu apa brur?”. Kata Lugi. “Terserah aja brur, yang penting kita bisa happy?”. Sahut Andi Yawan. “Hey kawan, kawan, ini sebuah lagu untuk kalian semua?, lagu yang sangat terkenal dari jaman dulu hingga sekarang?”. Sahutnya lagi. Semua teman temannya yang lagi santai nampak bertepuk tangan. “Mantap brur?”. Sahut beberapa temannya.

Lugi pun mulai memainkan gitarnya, nadanya agak nyentrik dan terdengar nuansa dangdut. Beberapa saat kemudian terdengar syair lagu dari mulutnya itu. “Bintang kecil, dilangit yang biru, amat banyak menghias angkasa…..?”. belum selesai lagu yang di nyanyikan Lugi. Teman temannya sontak menjadi geregetan dengan lagu yang dinyanyikannya itu. “Huuuuuuuuuuuuu?. Sialan kamu Lugi?, music awalnya bagus, dangdut?, eh ternyata lagu bintang kecil?”. Kata Andi Yawan protes.

“Lho, tadi saya bilangkan, lagunya terkenal dari zaman dulu hingga sekarang?”.

“Tapi bukan itu juga Lugi?, itu sih lagu taman kanak kanak? Emangnya kami ini anak anak TK ya?”.

“Hahahahahaha? ya persis? Kan kalian semua pada duduk duduk, seperti anak TK tuh?”.

“Sialan kamu Lugi?, sini biar aku saja yang nyanyi?”. Kata Andi Yawan. Sambil mengambil gitar yang dipegang oleh Lugi. “Kamu dengar nih, sang maestro nyanyi?”. kata Andi Yawan. Belum sempat Andi Yawan menyanyi, Mendadak ia di tegur oleh temannya. “Ssssst, andi, itu bu Eva berjalan ke arah kita?”. kata Bima Sakti. Buru buru Andi Yawan duduk dekat teman temannya. “Ada apa ini, semua pada santai disini?”. Kata bu Eva yang sudah berada di hadapan mereka. “Siap ka? Kami lagi santai ka?”. Kata Lugi yang berdiri dengan sikap siap. “Apa yel yel kalian sudah siap belum?”. Kata bu Eva lagi. “Siap ka? Belum siap ka?”. Kata Lugi. “Lho, kok belum siap?. terus kerjaan kalian apa saja?”. kata bu Eva dengan nada tinggi.

Nampak para peserta itu saling pandang, mencari jawaban yang tepat. “Lapor ka?, yel yelnya segera kami selesaikan ka?”. Kata Bima Sakti. “Cepat selesaikan itu? jangan malas?. Kalau tidak siap nanti kalian dapat sanksi?”. Kata bu Eva. Kemudian beranjak dari tempat itu. Menuju ke tenda tenda lainnya. “Waduh, kena marah deh kelompok kita kawan?”. Kata Lugi sambil menggaruk kepalanya. “Kamu sih Lugi?, katanya seniman, kok nggak bisa ngarang yel yel?”. Kata Andi Yawan.

“Bukannya nggak bisa Andi?, saya belum dapat ilham?”.

“Alahhh?, ngapain cari ilham?, nggak ada bakal ketemu kamu Lugi?”.

“Lha ini, type orang yang nggak paham?, bukan ilham nama sesorang? Tapi ilham itu semacam petunjuk gitu loh?”. Kata Lugi.

“Ah? Sudahlah,. Repot kalau berbicara dengan kamu ini? banyak bahasa yang susah saya pahami?”. Kata Andi Yawan lagi. “Gimana kalau kita minta Junaidi saja?”. Kata Bima Sakti. “Jangan brur? Kalau Junaidi itu urusan gerakannya saja?”. Kata Andi Yawan. “Eh, kawan kawan? Itu bu Eva. Pandangannya ke arah kita terus?, jangan jangan nanti ke sini lagi marahin kita?. ayo cepat selesaikan tugas kita brur?”. Kata Bima Sakti. Merekapun nampak serius menyelesaikan tugas kelompoknya itu. Sambil sesekali memandang ke arah bu Eva yang selalu mengawasi mereka dari jauh.

Sementara itu, bu Eva sedang berbicara dengan beberapa kaka sangga lainnya. “Ini beberapa acara yang kita berikan kepada peserta persami?, kalian pelajari dulu? Jika ada yang kurang paham, kalian bertanya saja kepada saya?”. kata bu Eva sembari menyerahkan beberapa kertas yang berisi susunan kegiatan yang akan dilaksanakan pada persami itu.

 

to be countined..